Categories
Notes

Jalan – jalan hore : Penumpang Gelap

Disclaimer : Postingan ini mengandung banyak gambar

Dibelakang saya ini adalah keindahan Gunung Singgalang dan pemandangan Gunung Marapi tepat di depan depan saya. Sayangnya saya tidak sempat mengabadikan pemandangan Marapi. Saya bisa sampai disini bukanlah sebuah kesengajaan. Bahkan tanpa ada niat sebelumnya tau-tau udah nyampe aja. hehehe.

Jadi ceritanya, weekend kemaren saya bertemu dua orang teman dari Komunitas Blogger Kayuh Baimbai Kalimantan Selatan. Ada Bang Harie dan Bang Sandi yang jauh-jauh datang ke Padang untuk mengikuti acara Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya.

Beberapa jam sebelumnya saya juga sedang bersama bang Arie yang juga sedang backpacker ke Padang. Tapi bang Arie tidak bisa ikut kopdar karena harus segera kembali ke Jakarta.

Sabtu sore setelah mengantar bang Arie ke bandara, diantar bang Ian dan Dial saya langsung ke Asrama Haji Sumatera Barat tempat peserta Temu Sastrawan menginap. Langsung bertemu bang Harie yang sedang pijat refleksi diteras asrama. Masuk angin katanya.

Selepas magrib kami langsung meluncur ke Taman Budaya Sumatera Barat dan ngobrol ngalor-ngidul sampai tidak terasa waktu menunjukkan sudah lewat jam 9 malam. Agak kemalaman karena untuk balik ke kosan saya agak tidak angkot friendly. Jam segitu biasanya angkot udah susah. Bang Harie menawarkan saya untuk menginap di Asrama Haji saja, kebetulan banyak tempat tidur yang kosong. Sekalian ikut City Tour ke Bukittinggi besoknya. Kata bang Harie busnya juga banyak bangku kosong.

Hehehe saya langsung okeh-okeh saja. Menunggu bus jemputan rombongan Temu Sastrawan kembali ke Asrama, saya menyaksikan pementasan puisi yang masih bagian dari acara yang sama.

Jam 12 pertunjukan selesai. Rombongan + Saya sebagai penumpang gelap kembali ke Asrama. Istirahat menumpulkan tenaga untuk mengikuti City Tour paginya.

Paginya masih agak ngga enak sama rencana mau jadi penumpang gelap.

Saya : Bang, aku ngga jadi ikut aja lah bang..

Bang Harie : Lah.. kenapa? banyak kursi kosong kok. Tenang aja.

Saya : Oh.. Emang mau kemana bang?

Bang Harie : Rumah Puisi Taufik Ismail

Saya : Rumah Puisi? Ya udah aku ikut. hahaha

Bang Harie : Dasar galau

Maka ikutlah saya dalam rombongan menuju Rumah Puisi Taufik Ismail πŸ˜†

Sempat foto sama pak Taufik Ismail juga

Mendengarkan beliau bercerita tentang masa kecilnya, tentang beberapa kisah dibalik karyanya INSPIRATIF BANGET kalo menurut saya. Dan rumah puisi ini pun dibuat sebagai bentuk kepedulian beliau terhadap sastra di Indonesia.

Tepat disebelah Rumah Seni ini ada semacam galeri seni dan cottage. Pemandangan disini keren. Udaranya juga seger. Tapi saya lupa menanyakan berapa biaya cottage disini permalamnya. Kali aja nanti pengen nginap hehehe.

Suasananya sejenis gabungan nuansa Minang dan Modern

Penampakan galeri seninya dari depan

Sampai didepan pintu langsung disambut patung Bung Hatta

Pemandangan dibagian belakang galeri

Dan berikut ini adalah beberapa penampakan penghuni galeri ini

Numpang narsis dikit

Dan seperti setiap kopdar pada umumnya, tidak afdol kalo ngga ada foto barengnya.

Setelah makan siang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Tidak sempat foto-foto ketika di Bukittingi karena kamera dan hape saya sudah keburu tewas.

Perjalanan yang benar-benar menyenangkan. Bukan hanya pengalaman, saya juga banyak berkenalan dengan sastrawan-sastrawan lain selama dalam perjalanan :).

By @udarian

| A Blogger From West Sumatera - Indonesia | Traveler | Citizen Journalist Enthusiast |

21 replies on “Jalan – jalan hore : Penumpang Gelap”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.